Sedari dari, hujan tidak berhenti mengguyur. Dia belum lelah menumpahkan segala beban yang menghimpitnya semenjak waktu sudah bisa melahirkan anak-anaknya. Jam, Menit dan Detik.
Aku disini, menikmatimu. Menikmati setiap tetes yang menyentuh dingin ujung jari kakiku. Menikmati setiap inchi aroma tanah basah yang terhirup oleh hidungku. Dan tidak bisa menghirup bau khas kopi yang kuseduh barusan.
Dan di situlah aku akan menguraikanmu. Tidak lain, melalui kata - kata. Duduk dan bacalah.
Kamu ingin berhenti memencet tombol tunda. Kamu ingin berhenti menyumbat denyut alami hidup dan membiarkannya bergulir tanpa beban. Dan kamu tahu, itulah yang tidak bisa dia berikan kini, Hingga akhirnya...
Sampai pada halaman kedua suratmu, kamu yakin dia akan paham. Atau setidaknya setengah memahami, betapa sulitnya perpisahan yang dilakukan sendirian. Tidak ada kata, peluk, cium atau langkah kaki beranjak pergi, yang mampu menjadi penanda dramatis bahwa sebuah akhir telah diputuskan bersama.
Atau sebaliknya, tidak ada sergahan yang membuatmu berubah pikiran, tidak ada kata "jangan" yang mungkin, apabila diucapkan dan ditindakkan dengan tepat, akan membuatmu menghambur kembali dan tak mau pergi lagi.
Kamu pun tersadar, itulah perpisahan paling sepi yang pernah kamu alami.
Ketika surat itu tiba dititiknya yang terakhir, masih akan ada sejumput kamu yang bertengger tak mau pergi dari perbatasan usai dan tidak usai. Aku yang merasakan apa yang kau rasakan. Yang mendamba untuk mengalami. Aku, yang telah menuliskan surat - surat cinta padamu.
Surat - surat yang tak akan pernah sampai.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar